Beginilah memulai usaha cara kiri :
- Menghitung kelayakan
- Mengamati pesaing
- Menguasai teknis
- Mengumpulkan modal
- Mencari lokasi
- Mencari karyawan
- Mencari alat-alat
- Memulai usaha
- Memasarkan produk
- Kalau berhasil. baru sedekah.
Padahal, bukan begitu yang di ajarkan oleh otak kanan. Cukup sedekah, memasarkan produk, dan memulai usaha. Selesai! Yang lain, nyusul. Jadi, jauh lebih cepat, jauh lebih hemat, dan tepat sasaran. Iya,'kan? Bukan itu saja, yang paling penting, urusan modal dan lokasi tidak lagi jadi kambing hitam dalam memulai usaha. Percayalah, mencari kambing hitam itu tidak baik. Kalau mencari kambing kurban, nah, itu baru baik. Hehehe!
Masih penasaran dengan dalih-dalih orang kiri? Simak saja dan lihatlah bagaimana Golongan Kanan mematahkan dalih-dalih itu dengan sekali sambar.
- Kata si kiri, "Punya modal dulu, ntar baru bisa buka usaha."
- Balas si kanan, "Pakai modal orang lain'kan bisa!" atau "Pakai brosur dulu'kan bisa!"
- Kata si kiri, "Studi kelayakan dulu, ntar baru buka usaha."
- Balas si kanan, "Buka usaha dulu, ntar baru usahanya di layakkan."
- Kata si kiri, "Makanannya enak dulu, ntar baru ramai."
- Balas si kanan, "Dibikin ramai saja dulu, ntar kesannya enak."
- Kata si kiri, "Barangnya bagus dulu, ntar baru dijual mahal."
- Balas si kanan, "Dijual mahal saja dulu, ntar kesannya bagus."
- Kata si kiri, "Omzetnya besar dulu, ntar baru bisa terkenal."
- Balas si kanan, "Dibikin terkenal saja dulu, ntar omzetnya bisa besar."
- Kata si kiri, "Sekolah tinggi-tinggi dulu, ntar baru bisa sukses."
- Balas si kanan, "Belajar formal secukupnya saja. Terus, perbanyak belajar informal. Dengan gitu, baru bisa sukses."
- Kata si kiri, "Kami bangga dengan gelar kesarjanaan."
- Balas si kanan, "Kami bangga dengan gelar barang dagangan," Maksudnya menggelar barang dagangan.
Sumber : Ippho 'Right' Santosa, 7 Keajaiban Rezeki

Tidak ada komentar:
Posting Komentar